Pasangan yang hendak menikah membutuhkan bekal sebelum memasuki gerbang kehidupan baru. Pernikahan bukan sekadar tentang dua orang yang saling mencintai. Melainkan tentang dua pribadi berbeda karakter dan kodrat, lalu belajar hidup dalam satu tujuan serta satu perjalanan panjang penuh dinamika.
Bekal menata rumah tangga wajib dimiliki. Layaknya anak berangkat sekolah dengan sarapan yang disiapkan dari rumah. Andai bercita-cita menjadi murid unggul, semua perlengkapan belajar wajib dimiliki demi mendukung pencapaian prestasi.
Calon pengantin (Catin) pun demikian, perlu bekal sebelum memulai kehidupan rumah tangga. Alasan itulah layanan bimbingan perkawinan (Bimwin) diselenggarakan di Kantor Urusan Agama (KUA) sebagai ruang belajar, ruang berbagi, sekaligus ruang refleksi bagi yang akan mengucapkan akad suci.
Bekal bukan sesuatu yang cukup diisi sekali untuk digunakan seumur hidup. Bekal mesti terus diperbarui, diisi ulang, dan disesuaikan dengan perjalanan yang dihadapi. Pernikahan pun demikian. Tiada pasangan yang selesai belajar hanya karena telah menikah.
Andai ada kursus yang menjamin seseorang menjadi keluarga sakinah, mawaddah, dan rahmah (Samara), tentu kursus itu jadi wadah paling diminati. Sayangnya, realita itu tidak demikian. Belum ada rumus pasti yang bisa menjamin rumah tangga selalu berjalan mulus, adem tanpa gejolak.
Penyuluh Agama Islam termasuk Abdi Sipil Negara (ASN) di KUA yang bergelut dengan urasan Catin dan dinamika rumah tangga, demi menguatkan pondasi keluarga. Penulis bertemu banyak calon pengantin dari berbagai latar belakang di KUA. Mereka datang membawa sejuta cerita, beda usia, beda pekerjaan, serta beda harapan. Penulis menyadari, ruang bimbingan pernikahan bukan hanya tempat menyampaikan materi, melainkan juga tempat penulis belajar tentang kehidupan Catin dan keluarga.
Setiap pasangan Catin menyimpan kisah unik dan menginspirasi. Suatu hari, di KUA Meuraxa, Banda Aceh, penulis bertemu Catin yang tampak akrab. Biasanya, saya memulai percakapan ringan dibumbui lelucon untuk mencairkan suasana.
"Awal bertemu di mana?" tanya saya singkat. Calon pengantin perempuan tersenyum malu, tetapi ia memberanikan diri menjawab pertanyaan pembuka dalam prosesi bimbingan perkawinan ini.
"Di rumah, Bu," ujarnya sambil menatap calon suami yang akan jadi pendamping hidupnya. Jawaban sederhana itu membuat penulis penasaran sehingga kembali melontarkan pertanyaan, "Bagaimana ceritanya?"
Senyum tampak merekah di bibir Catin perempuan. Seakan berat mengungkapkan momen istimewa itu, fase perdana mereka saling kenal. Beruntung, bimbingan perkawinan (Bimwin) kali ini cuma satu pasang. Hanya ada penulis sebagai fasilitator Bimwin dan dua sejoli yang akan memadu kasih dalam ikatan suci. Kondisi itu membuat mereka berani mengungkapkan akar cinta mereka tersemai.
Sang Catin perempuan bercerita, suatu hari rumahnya dimasuki biawak. Binatang liar itu membuat penghuni rumah kian panik. Keluarga si perempuan menghubungi petugas pemadam kebakaran (Damkar) agar membantu mengevakuasi hewan pemakan daging itu. Kebetulan, petugas yang datang ternyata sosok pemuda yang belum memiliki perempuan idaman. Berpakaian seragam dinas, pemuda itu dengan tulus mengevakuasi biawak yang seakan membuat resah hati seorang gadis yang jadi bunga di rumah itu.
Iya, ternyata gadis itu kini telah menyambut cinta petugas Damkar, yang akan hidup bersama dalam mahligai rumah tangga. Sebelum peristiwa menegangkan itu, mereka tidak saling kenal. Namun, kedatangan biawak ke rumah sang gadis telah membuka ruang untuk jalin komunikasi.
"Sejak saat itulah cerita kami dimulai," ujarnya sambil tersenyum. Kami bertiga dalam aula KUA, semua tertawa mendengar kisah tidak biasa itu. Siapa sangka, seekor biawak justru menjadi perantara mempertemukan dua insan hingga berujung ke pelaminan.
Jujur, KUA menyimpan banyak kisah pernikahan, selain rahasia, juga bisa jadi inspirasi. Pada kesempatan lain, penulis bertemu seorang Catin berprofesi sebagai profesor. Ia sangat ramah dan gemar bercanda. Ketika sesi bimbingan dimulai, saya sempat berkata dengan nada bercanda. "Prof, rasanya saya tidak layak memberikan bimbingan kepada Anda. Tapi bagaimana lagi, tugas dan tanggung jawab tetap harus dijalankan."
Profesor tersenyum dan suasana pun jadi cair. Kala diskusi, ia melontarkan candaan yang membuat seluruh ruangan tertawa. "Saya beruntung sekali mendapatkan istri. Walaupun tahunnya sudah lama, tapi masih kilometer nol."
Candaan itu tentu bukan untuk dimaknai secara harfiah. Namun dari sana penulis belajar bahwa humor sering kali menjadi jembatan yang membuat komunikasi terasa lebih hangat dan manusiawi.
Pengalaman sederhana seperti itu membuat ruang bimbingan perkawinan selalu terasa hidup. Setiap pasangan datang membawa kisah yang tidak pernah sama. Ada yang dipertemukan karena pekerjaan, ada yang dipertemukan oleh sahabat, ada yang dipertemukan di bangku kuliah, bahkan ada yang dipertemukan oleh peristiwa yang sama sekali tidak pernah mereka rencanakan.
Sekian banyak kisah dan pertemuan para sejoli, penulis menyadari satu hal penting, bahwa proses bimbingan Bimwin memang penting. Namun cara menyampaikan materi sering kali jauh lebih penting.
Materi yang sama bisa diterima secara berbeda oleh orang berbeda. Apa yang mudah dipahami oleh generasi milenial belum tentu menarik bagi generasi Z. Begitu pula sebaliknya.
Generasi muda saat ini tumbuh di tengah derasnya arus informasi. Mereka terbiasa dengan komunikasi cepat, visual, dan interaktif. Karena itu, pendekatan yang digunakan perlu menyesuaikan. Bimbingan tidak bisa hanya berisi ceramah satu arah. Ia harus menjadi ruang dialog yang membuat peserta merasa dekat, didengar, dan dihargai.
Ketika peserta merasa nyaman, pesan yang disampaikan lebih mudah diterima. Sebaliknya, materi yang sangat baik sekalipun bisa kehilangan makna jika disampaikan dengan metode tidak tepat.
Pelajaran lain yang dapat dipetik dan paling membekas dari sebuah bimbingan bukan banyaknya teori yang diberikan, melainkan manfaat dari ilmu tersebut ketika benar-benar diterapkan dalam kehidupan.
Peserta mungkin tidak ingat seluruh materi yang mereka dengar. Mereka mungkin lupa tentang presentasi atau istilah yang digunakan. Namun mereka akan ingat bagaimana ilmu itu membantu menyelesaikan konflik, memahami pasangan, mengelola emosi, atau bertahan ketika ujian rumah tangga datang bertubi-tubi.
Bimwin bukan semata menyiapkan pasangan untuk hari akad nikah. Bimwin jadi upaya menanam kesadaran bahwa pernikahan adalah proses belajar yang tidak pernah selesai.
Setiap rumah tangga ada ujian dan tiada pasangan yang sempurna. Tiada keluarga yang bebas dari persoalan. Namun mereka yang terus belajar, mau memperbaiki diri, dan terus mengisi ulang bekal perjalanan tentu memiliki kesempatan besar bertahan dan belajar tumbuh bersama.
Setiap Bimwin, selalu meninggalkan pelajaran baru bagi penulis. Saya datang untuk mengajar, tetapi sering kali pulang dengan lebih banyak pelajaran daripada yang disampaikan. Setiap Catin, selalu ada kisah kehidupan yang mengingatkan bahwa cinta memiliki banyak cara untuk mempertemukan manusia. Sementara pernikahan mengajarkan cinta yang bertahan adalah cinta yang terus belajar. (Email: evakhairani99@gmail.com)
*Artikel ini sudah tayang di Media Serambi Indonesia edisi 24 Juni 2026 dengan judul 'Kisah Biawak Perekat Cinta'

No comments
Silakan beri tanggapan dan komentar yang membangun sesuai pembahasan artikel.