Oleh Abu
Teuming
Tumpukan sampah di pinggir jalan menuju Hotel Renggali, Takengon
Sumber foto: Analisa
Sumber foto: Analisa
Indonesia
dikenal sebagai negara yang memiliki tanah subur. Daerahnya tropis dan baik
untuk segala macam tumbuhan. Kesuburan lahan di Indonesia menjadikan negeri ini
kaya akan tumbuhan. Benih-benih tumbuhan
sangat mudah tumbuh meskipun tidak ditanam dengan baik serta perawatan khusus.
Tidak heran Koes Plus
menciptakan lagu berjudul “Kolam Susu”. Yang
sebagian liriknya berbunyi "orang bilang
tanah kita tanah surga. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman".
Sekeras batu dan tongkat
berbahan kayu akan tumbuh bila ditancapkan di tanah Indonesia. Secara logika,
batu dan tongkat kayu tidak akan tumbuh menjadi tanaman. Walaupun dipupuk serta
dirawat dengan baik. Namun dalam lagu tersebut batu dan tongkat kayu terkesan
hidup untuk mengisyaratkan suburnya tanah Indonesia.
Ternyata kesuburan tanah
ini akan terancam akibat ulah manusia. Betapa tidak, keberadaan sampah plastik
di Indonesia semakin mengkhawatirkan. Direktur Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
(KLHK) Republik Indonesia mengatakan produksi sampah nasional mencapai 65,8
juta ton pertahun. Sedangkan 16 persennya merupakan sampah plastik. Kota Banda Aceh
sendiri menghasilkan sampah 300 ton pertahun. Angka fantastis yang menakutkan.
Sekarang semua kios dan
pusat perbelanjaan menyediakan kantong plastik untuk mengisi barang belanjaan.
Dan hampir semua barang dagangan terbungkus plastik, baik botol maupun saset. Kemasan
komestik, bungkusan makanan, popok bayi, dan pembalut wanita terbuat dari plastik.
Rata-rata kemasan berbahan
plastik itu hanya digunakan sekali. Selanjutnya akan menjadi sampah yang bisa
memuzaratkan makhluk, baik hewan, tumbuhan, dan manusia.
Perlu diakui, kepedulian
masyarakat terhadap sampah plastik masih minim. Tidak jarang dijumpai
masyarakat yang membuang sampah sembarangan. Lambat laun sampah ini akan
menumpuk. Sebagian orang menanam dalam tanah untuk menghilangkan jejak sampah
plastik. Padahal sampah plastik yang tertanam dalam tanah sangat sulit terurai. Sedikitnya membutuhkan waktu 50 sampai dengan
100 tahun untuk bisa terurai dengan tanah.
Tanah bercampur limbah plastik
Sumber foto: Batuimes.com
Permasalahan sampah di
Indonesia telah menggerakkan niat seorang peneliti Amerika Serikat. Ia
menyebutkan sampah plastik yang diproduksi Indonesia berada pada urutan kedua
di dunia, setelah Cina.
Ini menjadi berita buruk
bagi Indonesia, dan harus dilakukan berbagai langkah strategis untuk mengurangi
sampah plastik. Terlebih di sekolah yang mayoritasnya menyediakan jajanan
ringan berbungkus plastik. Konon masih banyak pelajar yang kurang peduli dengan
keindahan lingkungan.
Jumlah sampah plastik yang
terus meningkat akan menjadi problematika bangsa ini. Dalam banyak literatur,
sampah plastik yang dikonsumsi oleh binatang akan menyebabkan penyakit bagi
hewan tersebut. Negara Kenya memiliki rumah sakit yang merawat hewan pemakan
plastik. Penyu yang biasa memakan plastik sering dibawa ke rumah sakit tersebut
untuk mendapatkan perawatan. Ternyata, kebanyakan penyu yang sakit akibat
terlalu banyak menelan sampah plastik.
Tidak hanya menyakiti
hewan, sampah plastik sering menjadi pemicu terjadinnya banjir akibat saluran
tersumbat. Kapal yang menyeberang samudra kerap membuang sampah ke laut, yang
akhirnya terhempas ke pantai. Tidak jarang pantai-pantai di Aceh masih
ditemukan sampah plastik yang dapat mencemar lingkungan dan merusak keindahan
alam.
Persoalan sampah plastik
menjadi dalil kuat bahwa bukan tidak mustahil bangsa ini akan mewariskan tanah bercampur
limbah plastik bagi anak cucu. Sehingga tanaman akan sulit hidup akibat tanah
kurang subur.
Karenanya, perlu terobosan
untuk meminimalisir produksi sampah plastik di Indonesia, khususnya Aceh. Guna
mewariskan kesejahteraan bagi cucu lewat tanah yang subur dan alam yang indah.
Walau gerakan mengurangi sampah plastik telah dilakukan dengan beragam sistem,
tetapi tidak tertutup peluang untuk terus menyosialisasikan bahaya sampah
plastik, dan perlu upaya pencegahan produksi limbah tersebut.
Pada tahun 2017, Australia
telah meluncurkan "Return and Earn
atau Reverse Vending Machine". Program ini dikenal dengan mesin
pembeli sampah. Tujuannya agar pada 2020 Australia akan mengurangi produksi
sampah hingga 40%.
Pemerintah Indonesia juga
tidak hentinya melakukan upaya pengurangan sampah plastik. Bahkan telah
menetapkan kebijakan pada 22 kabupaten/kota di Indonesia agar pemilik usaha menjual
kantong plastik dengan harga Rp 500 per lembar. Ini merupakan langkah
meminimalisir penggunaan plastik.
Tempat Pembuangan Akhir
(TPA) bukan solusi konkret untuk mencegah produksi sampah. Karena di TPA
sampah hanya ditumpuk rapi agar tidak tercecer. Tetapi perlu perusahaan yang
mampu mendaur ulang sampah plastik hingga bernilai ekonomis.
Upaya lain yang dapat
dilakukan yaitu dengan menggunakan tas khusus bagi masyarakat yang berbelanja.
Semua barang belanjaan dimasukkan dalam tas, sehingga tidak banyak menghabiskan
kantong plastik.
Dengan adanya kesadaran
masyarakat terhadap bahaya sampah plastik, maka bumi ini akan selamat dari
pencemaran lingkungan. Dan Indonesia yang dikenal dengan tanah surga akan tetap
terjaga hingga generasi berikutnya. Akhirnya kesejahteraan manusia yang hidup
saat ini dan masa mendatang akan terjamin.


No comments
Silakan beri tanggapan dan komentar yang membangun sesuai pembahasan artikel.