Konsep syukur memang sangat sulit diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Bila semua kehendak Allah yang terjadi pada pribadi manusia dapat disikapi dengan rasa syukur, maka akan selalu ada kebaikan dalam hidup ini. Misalnya dalam rumah tangga, suami dan istri mesti bersyukur atas apa yang dikehendaki Allah. Ketentuan Allah tidak pernah salah dan tidak menzalimi manusia. Hanya saja manusia belum menemukan hikmah dibalik keadaan yang Allah kehendaki, sehingga enggan bersyukur atas titah-Nya.
Tidak semua yang dirasakan pahit dalam hidup ini harus dimaknai sebagai bentuk kesengsaraan. Bagi orang yang beriman, setiap takdir Allah adalah kebaikan yang mengandung hikmah, meskipun tersembunyi. Imam Al-Ghazali pernah berkata bahwa kehendak Allah (al-irada) selalu didasari pada hikmah yang sempurna, meskipun akal manusia tidak selalu mampu menangkapnya.
Terkait takdir Allah pada manusia, telah diberikan peringatan dalam surat Al-Baqarah ayat 216, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.”
Dalam hal ekonomi rumah tangga, istri mesti bersyukur atas rezeki yang Allah titip melalui usaha suami. Walaupun belum dapat memenuhi semua kebutuhan rumah tangga, tetap harus disyukuri. Bisa jadi orang lain lebih rendah pendapatannya daripada kita hari ini. Lebih jauh lagi, bisa jadi ada keluarga yang tidak makan karena tiada memiliki bahan makanan pokok. Itu sebab, atas apa yang dimiliki harus disyukuri sepenuhnya. Tanpa embel-embel angkuh atau sombong ingin hidup lebih mewah demi menandingi kualitas eknomi orang lain.
Dalam kehidupan ini, tidak semua orang hidup mewah akan bahagia. Orang miskin, juga bisa bahagia dengan cara selalu bersyukur dan taat pada hukum Allah.
Harus dipahami bahwa rezeki tidak terbatas pada finansial dan harta. Kesabaran, ketakwaan, dan ilmu merupakan rezeki yang sepatutnya disyukuri. Tidak semua orang ketika diberikan ujian berupa kekurangan makanan atau uang belanja mampu dilewati dengan sabar dan tawakal. Karenanya, setiap orang yang Allah tanamkan kesabaran dalam dirinya, maka itu adalah rezeki yang berdampak positif pada kesadaran diri untuk mempertahankan rumah tangga, meskipun ekonominya semakin sulit.
Rezeki yang dibawa pulang suami untuk kebutuhan rumah tangga wajib disyukuri oleh semua anggota keluarga, terutama istri sebagai orang berhak mendapatkan nafkah dari suami. Sikap syukur istri bisa ditunjukkan dengan tindakan tidak mengeluh atas yang diberikan Allah melalui tangan dan usaha suami. Permberian suami wajib diterima dengan lapang dada tanpa merasa kekurangan atas karunia Allah. Bahkan, istri sepatutnya selalu mendoakan kebaikan pada suami dan berharap Allah memberikan kemudahan dan keberkahan dalam rezeki mereka.
Allah menjanjikan pada hamba yang selalu bersyukur akan diberikan tambahan nikmat. Sebaliknya, bila manusia ingkar dan enggan bersyukur maka akan ada balasan berupa azab. Dalam surat Ibrahim ayat 7, Allah berfirman, “(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras’.”
Bentuk syukur bukan hanya semata ucapan seperti “Alhamdulilllah”. Tapi harus dipraktikkan dalam pengamanlan seperti salat, zikir, dan selalu taat kepada Allah dalam kondisi apa pun, termasuk ketika Allah belum melapangkan rezeki kepada hamba-Nya. Eko Nani Fitriono dalam bukunya Mengimplementasikan Ajaran Tasawuf dalam Pendidikan Agama Islam dan Dunia Kerja, menyebutkan cara bersyukur kepada Allah menurut para ulama di antaranya adalah menaati perintah-Nya.
Bersyukur bukan semata rasa ikhlas atas kehendak Allah dan sikap menahan diri dari perbuatan keji. Komitmen bersyukur, sekalipun terlihat sederhana namun menjadi amalan yang besar ganjaran pahalanya di sisi Allah. Allah sangat mencintai setiap hamba yang bersyukur walaupun hidup dalam keadaan melarat. Imam Ali al-Sajjad menjelaskan bahwa Allah mencintai setiap hati yang bersedih dan setiap hamba yang banyak bersyukur.
Pernikahan dimaknai
sebagai ikatan suci antara dua insan yang sepakat dan berkomitmen membina
mahligai rumah tangga. Ikatan suci dan sikap tersebut wajib dijaga dalam
keseharian suami dan istri. Saat ada problematika keuangan karena minimnya
pendapatan suami, maka sosok istri mesti ingat komitmen awal bahwa pernikahan
ikatan suci, setiap kekurangan harus disyukuri tanpa menyalahkan pihak lain
atau merendahkan suami. Bahkan, tidak boleh istri membandingkan keadaan ekonomi
dan pekerjaan suami dengan pasangan lain. Jika ini mampu dihidupkan dalam rumah
tangga, tentu ketahanan rumah tangga dapat terwujud. Allah akan memberikan rahmat
bagi pasangan seperti ini melebihi dari rezeki yang dia harapkan. Sekecil apa pun kebaikan yang ada pada diri
pasangan mesti menjadi perhatian serius dan disyukuri. Sebaliknya, menghindari
keburukan seperti masih terbatasnya penghasilan pasangan, sehingga keduanya
bisa lebih fokus melengkapi kekurangan tanpa terpengaruh kekurangan uang
belanja.

No comments
Silakan beri tanggapan dan komentar yang membangun sesuai pembahasan artikel.