Pasca Idul Fitri, banyak peristiwa pernikahan yang dilakukan
oleh muda dan mudi. Ini sangat berasalan, karena Syawal memiliki keutamaan
selain puasa sunat, juga sunat melaksanakan pernikahan pada bulan tersebut.
Aisyah meriwayatkan seperti tercantum dalam hadis Riwayat Imam Muslim nomor
1423,
قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهَا: تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ
فِي شَوَّالٍ وَبَنَى بِي فِي شَوَّالٍ فَأَيُّ نِسَاءِهِ كَانَ أَحْظَى عِنْدَهُ
مِنِّي
Artinya: “Aisyah berkata,
‘Rasulullah menikahiku di bulan Syawal, dan menggauliku di bulan Syawal.
Maka siapakah di antara istri beliau yang lebih beruntung di sisinya
dariku?"
Hadis ini mendapat tanggapan serius dari Imam Nawawi
dalam Syarh Shahih Muslim (9/209), bahwa pesan
Rasulullah tersebut menjadi catatan penting anjuran menikah dan berhubungan
suami istri pada bulan Syawal. Lebih lanjut, istrI Rasulullah, Aisyah sangat
menyukai setiap perempuan yang menikah pada bulan syawal.
Dalam hal berhubungan badan, sangat wajar bila dianjurkan
pada bulan Syawal, mengingat selama Ramadhan, khusus pada siang hari dilarang
bersetubuh. Meskipun pada malam Ramadhan tidak diharamkan, namun umat Islam
lebih dominan meninggal berhubungan badan. Bisa jadi ini juga upaya melatih
diri menahan nafsu terhadap perempuan, sehingga dalam kondisi sendirian, misal
saat berpergian, istri sedang haid, atau ditinggal istri karena meninggal,
tentu sudah punya kekuatan untuk mengendalikan diri dari pengaruh nafsu.
Anjuran berhubungan badan juga menjadi tanda bahwa
Rasulullah sangat memahami kondisi umatnya yang tidak selamanya mampu menahan
diri untuk melakukan hubungan biologis. Terutaman bagi pemuda, sehingga anjuran
menikah pada bulan Syawal suatu keniscayaan.
Sisi lain, pernikahan yang dilakukan pada bulan Syawal akan
dibarengin dengan walimahtul 'urusy. Lumrahnya, kelaurga mempelai menggelar
pesta pernikahan dengan menyediakan makanan serta mengundang kerabat, tetangga,
dan teman. Makanan dan semua bentuk hidangan menjadi sedekah yang
disiapkan oleh keluarga mempelai untuk masyarakat yang diundang.
Dalam konteks Islam, Ramadhan adalah bulan ketaatan,
termasuk sunat memperbanyak sedekah. Setelah Ramadhan, kebiasaan bersedekah itu
mesti dipelihara, karena menjadi barometer diterimanya amalan selama Ramadhan.
Dalam kitab Al-Majmu' karangan Imam An-Nawawi disebutkan, "Menjaga
amal saleh setelah Ramadhan merupakan tanda diterimanya ketaatan, di antaranya
sedekah."
Sedekah yang diberikan pada waktu tertentu memiliki nilai plus dan lebih unggul. Bulan Syawal juga momen terbaik untuk memperbanyak sedekah, selain Ramadhan. Itu sebab, Imam Al-Ghazali mengingatkan dalam karyanya, bahwa, "Sedekah pada waktu-waktu yang utama lebih baik dan lebih banyak pahalanya, di antaranya setelah Ramadhan di bulan Syawal, karena itu merupakan penyempurnaan amal kebaikan."
*Abu Teuming (Penyuluh Agama Islam KUA Baitussalam, Aceh Besar dan Direktur Keluarga Sakianh
Mawaddah dan Rahmah (K-Samara)

No comments
Silakan beri tanggapan dan komentar yang membangun sesuai pembahasan artikel.