Pernikahan tidak selalu dipenuhi rentetan kebahagian dan jutaan kemesraan. Kebahagian akan datang bersamaan dengan kesedihan, kerena, setiap pasangan punya potensi bahagia dan berpeluang sengsara.
Namun,
kesengsaraan dan kepahitan hidup rumah tangga sebenarnya dapat diatasi, dengan
cara melibatkan Allah dalam setiap sendi kehidupan. Setiap apa pun yang
dilakukan wajib melibatkan Allah. Ketika ada masalah dalam hubungan suami dan istri,
Allah wajib dilibatkan serta mesti ada empati dalam hati keduanya. Tanpa
empati, saling sayang dan perhatian, pertengkaran suami dengan istri sulit ada
titik temu, menuju damai dalam cinta.
Cinta dan
sayang pun harus memiliki dasar yang kuat, alias tebal. Dasar adanya cinta dan sayang
dengan level terkuat adalah cinta karena Allah. Alasan logisnya, cinta bisa
kuat jika sikap dan karakter terpuji ada pada masing-masing pasangan. Lembut
tutur kata, tidak egois, sikap santun dan tidak memandang pasangan dengan hina,
tentu hal ini akan membawa pada lahir benih cinta dan saying super kuat. Dampaknya,
saat terjadi konflik rumah tangga, kekuatan cinta dan sayang mampu menenggelamkan
benih-benih konflik sehingga yang tersisa di permukaan tetap cinta dan sayang. Sementara
sumber konflik yang kecil dan tipis telah terkubur dalam-dalam.
Saat kekuatan
cinta dan sayang menghembuskan energi, yang terjjadi hanya keinginan untuk
terus bersama tanpa ada kata pisah. Itu sebab, miliki dan tumbuhkan dasar cinta
yang kuat melalui sikap santun, lembut tutur kata, dan penuh kasih sayang. Catatan
penting yang harus diingat bahwa “Cinta itu datang dari mata turun ke hati”. Lumrahnya,
manusia lawan jenis saling kenal, baik kenal fisik, kenal sifat, dan kenal
lingkungan. Perkenalan itu pasti lewat mata, yang kemudian menembus hati, yang
disebut cinta.
Sebaliknya, sayang
dan cinta jangan terlalu tipis, setipis tisu karena mudah retak. Sikap kasar,
tidak sopan, tutur kata tidak menyejukkan, apalagi sifat malas dalam menunaikan
hak masing-masing, maka latar belakang tersebut akan bermuara pada hilangnya cinta
dan redupnya rasa sayang pada pasangan. Kondisi inilah yang disebut dasar cinta
setipis tisu.
Suami dan
istri patut menyadari bahwa Allah sangat suka pada hamba yang membutuhkan-Nya.
Allah suka pada orang yang melibatkan-Nya meskipun dalam perkara kecil.
Sementara perkara besar, sudah sewajibnya melibatkan Allah, sebab tanpa bantuan
Allah, persoalan yang dihadapi manusia tidak akan mudah.
Sebenarnya,
bukan Allah enggan membantu orang yang tidak melibatkan-Nya. Hanya saja Sang
Pemilik Kasih Sayang ingin selalu bersama hamba dalam setiap perbuatan mereka. Tanpa
Allah, manusia tidak ada apa-apanya. Tanpa melibatkan Allah, pernikahan tidak
akan memberikan makna lebih luas, artinya jauh dari sakinah mawaddah
dan rahmah.
Melibatkan
Allah itu wajib. Ada kekuatan luar biasa yang akan datang saat manusia sungguh-sunguh
mengharapkan campur tangan Allah. Libatkan Allah dalam urusan rumah tangga.
Allah bisa mengubah segalanya, mampu mengubah yang mustahil menjadi mungkin,
bahkan jadi nyata. Mampu mengubah yang benci jadi cinta, yang cinta bisa jadi
bertahan dalam ikatan suci pernikahan.
Ikhtiar suami
dan istri bisa jadi sudah sangat bagus. Tapi ketika Allah tidak dilibatkan,
maka ikhtiar itu tidak sempurna. Setidaknya, libatkan Allah dalam doa, mohon
petunjuknya, dan ikuti pedoman dalam kitab-Nya.
Melibatkan Allah
dalam persoalan rumah tangga ada beragam cara, misal berdoa, salat, dan segala
bentuk ketaatan adalah bagian dari keterlibatan Allah dalam urusan suami dan istri.
Persoalan rumah tanga yang melibatkan Allah akan lebih berkah, memberikan ketenangan,
dan kebaikan lainnya.
Terkadang, Allah
selalu dilibatkan setiap ada dinamika rumah tangga, namun pintu perceraian
tidak bisa tutup. Dalam kondisi dekimian, meskipun harus berpisah, setidaknya
ada kebaikan dibalik putusnya hubungan pernikah, seperti tetap punya komitmen
menjaga anak atau tetap mempertahankan silaturhami antarkeluarga pasangan yang
sudah terjalin sejak akad nikah terucapkan.
Tanpa Allah, suami dan istri pasti tidak mampu. Saat konflik rumah tangga memuncak dan emosi tidak terkedali, sangat rentan terjadi aksi negatif seperti memukul pasangan atau mengeluarkan kata-kata kasar yang menyakitkan serta membangkit amarah lawan bicara. Seandainya Allah dilibatkan, meski konflik memuncak, tentu merka tidak berkata kotor dan menyakitkan pasangan, sebab ia berada dalam pengawasan Allah dan Allah terlibat dalam urusannya.
Gunakan senjata umat Islam saat konflik rumah tangga
Konflik rumah
tangga terkadang amat sulit dilerai dengan berbagai dalih. Sebenarnya,
kesulitan apa pun dapat diatasi jika mereka meyakinkan bahwa melibatkan Allah
adalah pilihan terbaik dalam setiap masalah suami dan istri. Dalam kesulitan,
bisa datang pertolongan Allah melalui doa yang selalu dipanjatkan kala hidup
sulit. Dalam Islam telah banyak dinarasikan bahwa doa adalah senjata bagi orang
Islam. Senada dengan pesan Rasulullah:
“Doa adalah senjata orang mukmin,” (HR. Abu Dawud).
Patut dicatat bahwa ketika suami dan istri melibatkan Allah
saat cek cok rumah tangga, bukan pertanda mereka lemah, tapi bukti nyata bahwa Allah
lebih kuat dan punya energi besar yang bisa datang dari arah tanpa disangka-sangka.
Setiap kebaikan adalah rezeki yang datang dari bermacam arah. Jadi rezeki bukan
semata tentang uang.

No comments
Silakan beri tanggapan dan komentar yang membangun sesuai pembahasan artikel.