Forum Komunikasi Penyuluh Agama Islam (FKPAI) Aceh amat
beruntung mendapat undangan hadir Sidang Promosi Doktor, H Salman SPd MAg di
Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Rabu, 6 Mei 2026. Di sana, di lantai
tiga, yang kerap disebut ruang “Bedah berdarah-darah” biasanya dikupas habis
disertasi mahasiswa yang ingin gelar doktor (Dr). Kini giliran Haji Salman
mempertanggungjawabkan hasil penelitiannya pada Program Studi Pendidikan Agama
Islam.
Siang itu, Haji Salman Arifin berdiri gagah di hadapan guru
besar berseragam toga merah. Ya, mereka adalah penguji, yang akan mengupas
tuntas disertasi "Analisis Kebijakan Pemerintah Aceh dalam Pengembangan
Profesionalisme Guru Pendidikan Agama Islam."
Bersamanya, sejumlah media pendukung terlihat jelas. Laptop
bermerek terus menyala di podium tempat presentasi hasil penelitian. Makalah
ringkasan disertasi tidak pernah lekang dari jemarinya. Pulpen dan buku kosong
telah disiapkan untuk mencatat semua masukan penguji.
Presentasi disertasi lancar, penuh kekeluargaan. Sosok Salman
yang dikenal humoris membuat suasana sidang yang seharusnya menegangkan, justru
lebih ringan, seakan tiada beban. Sesekali, terselip kata lelucon dari mulutnya
yang membuat nuansa ruangan kian cair. Di balik gemuruh tawa yang terdengar
dari audiens dan penguji, Salman tetap mempertahankan pertemuan penting ini
sebagai forum ilmiah, tempat menguji ketajaman analisa dan ruang menerima
kritikan penguji.
Salman memresentasikan disertasi dengan tetap mengedepankan
konsep pemaparan karya ilmiah. Desertasi ini berawal dari kegelisahannya
terhadap model pengembangan profesionalisme guru Pendidikan Agama Islam yang
lebih condong administratif. Sementara persentase keahlian dan keterampilan
hampir terabaikan.
Argumentasi yang diutarakan membuat penguji harus acung
jempol. Ya, para tamu melangitkan tepuk tangan setiap kali promofendus mendapat
pujian bapak dan ibu terhormat serta amat terpelajar itu.
Bergaya santai namun penuh makna, Salman beberapa kali
melontarkan kelakar pencair suasana. Ia sempat menyinggung fenomena kecerdasan
buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang kini marak
digunakan di berbagai bidang.
“Sekarang semua orang menggunakan AI atau aplikasi pintar.
Namun saya juga berhasil melaksanakan sidang ini berkat AI,” ujarnya sambil
tersenyum. Para peserta sidang tampak menunggu kelanjutan kalimat tersebut. “AI
itu adalah Arahan Istri,” lanjutnya, disambut gelak tawa seluruh ruangan.
Candaan itu tidak berhenti sebagai humor semata. Bernada
penuh penghargaan, Salman menyisipkan pesan sederhana tentang pentingnya
dukungan pasangan dalam perjalanan akademik seseorang.
“Nah, ini salah satu tip pria berhasil, yaitu berada di bawah
anak dan istri,” pungkasnya.
Ayah empat anak ini dikenal bukan hanya sebagai intelektual,
Salman juga tercatat sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakankemenag)
Kota Banda Aceh. Bahkan ini daerah ketujuh yang ia pimpin di level kabupaten
kabupaten/kota. Ia pernah jadi Kakankemenag Simeulue, Aceh Tenggara,
Lhokseumawe, Sabang, Aceh Timur dan Aceh Besar. Rasanya, ia pantas disebut
angkatan laut dan udara, sebab pernah memimpin lembaga keagamaan di daerah
perairan dan daratan.
Rekam jejak itu makin menguatkan Salman memang sosok birokrat
sejati dengan sejuta pengalaman. Perpaduan kapasitas intelektual dan
kepemimpinan birokrasi ini tercermin dalam penampilan yang meyakinkan tanpa ada
bantahan serius saat presentasi disertasi.
Sejak awal, aura optimisme dan percaya diri terpancar dari
kandidat doktor ke 359 Pascasarjana UIN Ar-Raniry ini. Pemaparan yang
sistematis, argumentasi tajam, serta penguasaan materi yang matang berhasil
memukau para penguji dan hadirin. Tidak heran, beberapa kali ruangan sidang
bergemuruh tepuk tangan sebagai bentuk apresiasi atas penampilan yang dinilai
luar biasa.
Seorang promotor, Prof T Zulfikar MEd harus mengakui
kelebihan Salman. Guru besar ini memberikan kesan mendalam terhadap jalannya
sidang. Ia mengungkapkan sidang promosi doktor kali ini menjadi salah satu yang
paling istimewa dari segi dukungan yang hadir.
"Ini adalah sidang promosi doktor dengan jumlah pendukung terbanyak yang pernah saya saksikan. Antusiasme ini menunjukkan betapa besar dukungan dan kepercayaan terhadap kandidat," ujarnya disambut tepuk tangan meriah.
Momen lainnya, seorang profesor bertanya cara Salman mampu
menghadirkan begitu banyak orang untuk ikut sidangnya, sekaligus apa rahasia
agar hati promotor menjadi “luluh” selama proses akademik yang panjang.
Alih-alih menjawab dengan strategi akademik yang rumit, Haji Salman justru
memberikan jawaban bernuansa spiritual.
“Ada doanya,” ujarnya. Lalu ia membaca doa, “Rabbi
adkhilnī mudkhala ṣidqin wa akhrijnī mukhraja ṣidqin waj‘al lī min ladunka sulṭānan
naṣīrā.” Doa itu sontak menarik perhatian hadirin.
Pimpinan sidang, Prof Eka Srimulyani pun merespons hangat.
“Nah, ini sudah ada doa bagi yang ingin bertemu dosen,” ujar Prof Eka disambut
tawa dan senyum para peserta sidang. “Jadi jangan takut kuliah di pascasarjana,
karena kuliah di sini menyenangkan.”
Percakapan ringan tersebut justru memperlihatkan sisi lain
dunia akademik. Ruang ilmu tidak selalu harus kaku. Ada kebersamaan, humor, dan
nilai-nilai spiritual yang berjalan beriringan.
Promotor senior, Prof Dr Warul Walidin menyampaikan satu
kalimat yang begitu membekas, “Guru, atau pembimbing spiritual lebih penting
daripada apa pun.” Kalimat itu seolah menjadi penutup tak tertulis dari
keseluruhan suasana sidang hari itu. Bahwa gelar akademik memang penting,
tetapi perjalanan menuju ilmu tidak pernah lepas dari peran guru, doa,
keluarga, dan orang yang bersamanya.
Sidang promosi doktor Salman akhirnya tidak hanya menjadi
ruang pengujian ilmiah, tetapi juga panggung kecil yang memperlihatkan bahwa
ilmu pengetahuan dapat berjalan berdampingan dengan ketulusan, humor, dan
hikmah kehidupan.
Salman dengan yakin menyebutkan bahwa ada teori baru
pascaketekunan, lelahnya meneliti, dan menganalisa data, yang disebutnya novelty.
Penelitian ini mengharuskan redefinisi profesionalisme guru
Pendidikan Agama Islam (PAI) dari paradigma administratif menuju model
profesionalisme substantif-religius berbasis kekhususan Aceh,
yang mengintegrasikan dimensi pedagogik, spritual, sosial-keagamaan, dan
legitimasi hukum daerah dalam satu kerangka konseptual.
Tampaknya, bukan hanya cita-cita promofendus, tapi penguji
dan tamu benar-benar berharap Pemerintah Aceh mengadopsi dan mengembangkan
hasil penelitian Salman, semata-mata untuk melahirkan guru Pendidikan Agama
Islam yang profesional berbasis nilai keacehan, demi memaksimalkan pendidikan
karakter bagi generasi Aceh sebagai upaya mendukung syariat Islam.
Puncak haru terjadi di penghujung sidang, pasca Sekretaris
Sidang, Dr Silahuddin membacakan berita acara kelulusan Salman dalam Sidang
Promosi Doktor. Sejak detik itu, gelar doktor resmi melekat padanya. Kini,
lengkap sudah gelar akademik, Dr Salman SPd MAg.
Usai sidang, suasana jadi emosional ketika sang istri memeluk
hangat, sebuah simbol dukungan, perjuangan, dan cinta yang menyertai perjalanan
panjang menuju doktor. Momen ini menyentuh keluarga dan hadirin merasa
kebahagiaan itu.
Momen penuh inspiratif ini patut jadi konsumsi publik,
terutama bagi pejabat yang memang memiliki kegiatan padat. Namun, Salman seakan
ingin mematahkan anggapan pejabat tidak punya waktu luang untuk kuliah. Ia
membuktikan tiada alasan pejabat negara tidak punya waktu belajar.
Sidang promosi doktor ini bukan sekadar pencapaian pribadi, tetapi juga cerminan semangat keilmuan, kepemimpinan, ketekunan, dan dedikasi yang patut diteladani. Semoga keberhasilan ini menjadi langkah awal untuk kontribusi yang lebih besar bagi umat, bangsa, dan dunia pendidikan.
Sidang Promosi Doktor saudara Salman diketuai Prof Eka
Srimulyani PhD Sekretaris Dr Silahuddin MAg, Promotor Prof Dr Warul Walidin Ak
MA, Prof Dr T Zulfikar MEd. Sedangkan penguji Prof Dr Zulfikar, Prof Dr Safrul
Muluk MA PhD dan Fatimah PhD.
*Penulis Pengurus FKPAI Aceh dan pegiat literasi di Penyuluh
Penulis Kreatif (PPK)

No comments
Silakan beri tanggapan dan komentar yang membangun sesuai pembahasan artikel.