Oleh: Abu Teuming
Pernikahan tidak selalu dipenuhi
rentetan kebahagiaan dan jutaan kemesraan. Hubungan pernikahan sebagai
perjalanan panjang dan dinamis, di dalamnya ada sukacita, sedih, dan bisa jadi
bercampur bahagia. Kebahagian dan kesedihan akan datang bersamaan atau berlainan
waktu, kerena setiap pasangan punya potensi bahagia dan berpeluang sengsara
jika unsur rumah tangga tidak ideal.
Namun, kesengsaraan dan kepahitan
hidup rumah tangga sebenarnya dapat diatasi, dengan cara melibatkan Allah dalam
setiap sendi kehidupan. Ketika ada masalah dalam hubungan suami dan istri,
Allah wajib dilibatkan serta mesti ada empati dalam hati keduanya. Tanpa
empati, saling sayang dan perhatian, pertengkaran suami dengan istri sulit menuai
titik temu, demi menuju damai dalam cinta.
Cinta dan sayang pun harus memiliki
dasar kuat, alias tebal. Dasar adanya cinta dan sayang dengan level terkuat
adalah cinta karena Allah. Alasan logisnya, cinta bisa kuat jika sikap dan
karakter terpuji ada pada masing-masing pasangan. Lembut tutur kata, tidak
egois, sikap santun, stabilitas finansial dan tidak memandang pasangan dengan
hina, tentu hal ini akan membawa pada lahir benih cinta dan sayang super kuat.
Dampaknya, saat terjadi konflik rumah tangga, kekuatan cinta dan sayang mampu
menenggelamkan benih-benih konflik dan kebencian, sehingga yang tersisa di
permukaan tetap cinta dan sayang. Sementara sumber konflik yang kecil dan tipis
telah terkubur digerus arus keadaan.
Saat kekuatan cinta dan sayang
menghembuskan energi, yang terjadi hanya keinginan untuk terus bersama tanpa
ada kata pisah. Energi positif dalam diri punya pengaruh luar biasa dalam
kehidupan. Itu sebab, memiliki dan menumbuhkan dasar cinta yang kuat bisa melalui
sikap santun, lembut tutur kata, dan penuh kasih sayang.
Catatan penting yang harus diingat
bahwa “Cinta itu datang dari mata turun ke hati”. Slogan klasik ini
menggambarkan cinta dan sayang datang melalui proses serta jalur sensitif. Mata
punya peran besar untuk mengenal lawan jenis baik fisik, sifat, dan lingkungannya.
Perkenalan yang memanfaatkan organ mata kemudian menembus hati, biasa disebut
cinta. Di sanalah cinta memainkan perannya yang membangkit energi berupa aksi
nyata, seperti mengungkap isi hati atau melayani pasangan tanpa beban, penuh
tanggung jawab.
Sebaliknya, sayang dan cinta jangan
terlalu halus, setipis tisu karena mudah sobek. Prilaku kasar, tidak sopan,
tutur kata tidak menyejukkan, apalagi sifat malas dalam menunaikan hak dan
kewajiban masing-masing pasangan, maka latar belakang tersebut akan bermuara
pada hilangnya cinta dan redupnya rasa sayang. Kondisi inilah yang disebut
dasar cinta setipis tisu.
Istilah tersebut kerap dimaknai
dengan kesabaran setipis tisu, cepat marah, dan sulit mengontrol emosi saat
terjadi dinamika rumah tangga. Lemahnya kesabaran membuat orang mudah menyerah.
Dalam konteks rumah tangga, pesoalan kecil seakan tiada jalan penyelesain
kecuali bercerai. Padahal tidak demikian, dinamika rumah tangga adalah seni
kehidupan yang seyogyanya dikelola secara bijak supaya klimaks kebahagiaan rumah
tangga di atas rata-rata. Terkadang rumah tangga perlu diuji, bukan untuk
menghancurkan ikatan suci, tapi untuk melihat kekuatan cinta yang dahulu
diucapkan lalu dibuktikan via akad nikah. Lebih dari itu, untuk menguji derajat
kesabaran dan komitmen orang-orang yang menggerakan kapal rumah tangga.
Suami dan istri patut menyadari bahwa
Allah sangat suka pada hamba yang membutuhkan-Nya. Allah suka pada orang yang
melibatkan-Nya meskipun dalam perkara kecil, bahkan hal yang dianggap remeh
sekalipun. Sementara dalam perkara besar, sudah sewajibnya melibatkan Allah,
sebab tanpa bantuan Allah, persoalan yang dihadapi manusia tidak akan mudah.
Sebenarnya, bukan Allah enggan
membantu orang yang tidak melibatkan-Nya. Hanya saja Sang Pemilik Kasih Sayang
ingin manusia itu sadar bahwa Allah selalu bersama hamba dalam setiap perbuatan
mereka. Tanpa Allah, manusia tidak ada apa-apanya. Tanpa melibatkan Allah,
pernikahan tidak akan memberikan makna lebih luas, artinya jauh dari harapan sakinah, mawaddah, dan rahmah.
Melibatkan Allah itu wajib. Ada kekuatan
luar biasa yang akan datang saat manusia sungguh-sunguh mengharapkan campur
tangan Allah. Ada banyak manfaat saat melibatkan Allah dalam urusan rumah
tangga. Allah bisa mengubah segalanya, mampu mengubah yang mustahil menjadi
mungkin, bahkan jadi nyata. Mampu mengubah yang benci jadi cinta, yang cinta
bisa jadi bertahan dalam ikatan suci pernikahan.
Ikhtiar suami dan istri bisa jadi
sudah sangat maksimal. Tapi ketika Allah tidak dilibatkan, maka ikhtiar itu
tidak sempurna. Setidaknya, libatkan Allah dalam doa, mohon petunjuknya, dan
ikuti pedoman dalam kitab-Nya.
Melibatkan Allah dalam persoalan
rumah tangga ada beragam cara, misal berdoa, salat, dan segala bentuk ketaatan
adalah bagian dari keterlibatan Allah dalam urusan suami dan istri. Setiap persoalan
rumah tangga yang melibatkan Allah akan lebih berkah, memberikan ketenangan,
dan kebaikan lainnya.
Terkadang, Allah selalu dilibatkan
setiap ada dinamika rumah tangga, namun pintu perceraian tidak bisa ditutup.
Dalam kondisi dekimian, meskipun harus berpisah, setidaknya ada kebaikan
dibalik putusnya hubungan pernikahan, seperti tetap punya komitmen memenuhi hak
anak atau tetap mempertahankan silaturahmi antarkeluarga pasangan yang sudah
terjalin sejak akad nikah terucapkan.
Tanpa Allah, suami dan istri pasti
tidak mampu. Saat konflik rumah tangga memuncak dan emosi tidak terkendali,
sangat rentan terjadi aksi negatif seperti memukul pasangan atau mengeluarkan
kata-kata kasar yang menyakitkan serta membangkit amarah lawan bicara.
Seandainya Allah dilibatkan, meski kesenjangan memuncak, tentu mereka tidak
berkata kotor dan menyakitkan pasangan, sebab ia berada dalam pengawasan Allah
dan Allah terlibat dalam urusannya.
Senjata umat Islam saat konflik rumah
tangga
Konflik rumah tangga terkadang amat sulit
dilerai dengan berbagai dalih. Sebenarnya, kesulitan apa pun dapat diatasi jika
mereka meyakinkan bahwa melibatkan Allah adalah pilihan terbaik dalam setiap
masalah suami dan istri. Dalam kesulitan, bisa datang pertolongan Allah melalui
doa yang selalu dipanjatkan kala hidup tidak menentu arah. Dalam Islam telah
banyak dinarasikan bahwa doa adalah senjata bagi orang Islam.
Senada dengan pesan Rasulullah yang
diriwayatkan Imam At-Tirmdzi, “Doa adalah senjata orang mukmin, tiang agama,
dan cahaya langit dan bumi.” Sebagai senjata mukmin, doa punyak
manfaat ganda. Apa pun cobaan hidup dalam rumah tangga, doa menjadi penguat
psikologi sekaligus fondasi agama yang mempererat hubungan spiritual hamba
dengan Allah.
Patut dicatat bahwa ketika suami dan istri
melibatkan Allah saat cekcok rumah tangga, bukan pertanda mereka lemah, tapi
bukti nyata bahwa Allah lebih kuat dan punya energi besar yang bisa datang dari
arah tanpa disangka-sangka. Setiap kebaikan adalah rezeki yang datang dari
bermacam arah. Jadi rezeki bukan semata tentang uang. Kenyaman hidup berumahtangga
dan terhindar dari perceraian merupakan rezeki yang wajib disadari suami atau
istri.
Catatan akhir penulis, libatkan Allah
untuk awetkan rumah tangga dan gunakan doa sebagai penguat diri saat rumah
tangga dihempas badai konflik. Semoga rumah tangga Anda langgeng dan hanya
kematian yang memisahkan.
*Penulis adalah Fasilitator Bimbingan Perkawinan Calon Pengantin KUA Baitussalam

No comments
Silakan beri tanggapan dan komentar yang membangun sesuai pembahasan artikel.